NAMA : KHAIRAINI
NIM : 1608107010016
MANFAAT TIK BAGI PENDIDIKAN
A.Pemanfaatan
TIK Pada Bidang Pendidikan Ditinjau dari Pelaksanaan Pembelajaran
Akhir akhir ini perkembangan TIK
(Teknologi Informasi Komunikasi) sudah sedemikian maraknya. Hampir seluruh
instansi atau perusahaan memanfaatkan TIK tersebut. Misalnya saja dalam bidang
perekonomian, dapat dilakukan transfer uang antar bank, transaksi jual beli
lewat internet, dll. Dalam bidang politik, dapat dilakukan quick count (hitung
cepat pemilu) dimana data perolehan suara dikirim melalui SMS gateway dan data
diolah dengan bantuan database. Bidang pendidikan pun tidak luput dari
perkembangan TIK tersebut. Dalam tulisan ini saya akan memaparkan gagasan yang
saya miliki terkait dengan pemanfaatan TIK di bidang pendidikan (e-education).
Menurut saya masih banyak bagian atau
porsi di bidang pendidikan yang sebenarnya dapat memanfaatkan TIK. Dari segi
pelaksanaanya. Pertama, TIK dapat digunakan untuk membantu pengajar dalam
melakukan absensi. Selama ini yang kita tahu sejak SD hingga SMA, pengajar
masih melakukan absensi secara manual, yakni dengan buku absen dan memanggil
murid secara satu persatu.
Padahal hal tersebut tentunya merepotkan dan jika dilihat dari kefektifan
waktu, tentu saja ini cukup memakan waktu dan mengurangi waktu belajar di
kelas. Ide saya terkait absensi ini adalah tiap murid dapat secara praktis
melakukan absensi dengan menempelkan jari mereka pada suatu instrumen TIK dan
data absensi langsung masuk ke database. Data absensi juga bisa diekses secara
online oleh orang tua murid yang ingin mengetahui perkembangan anaknya di
sekolah, entah melalui situs sekolah maupun SMS gateway.
Kedua, TIK dapat diterapkan dalam
mencatat nilai siswa dan mem-publish-nya. Selama ini guru mencatat nilai siswa
secara manual. Untuk nilai ulangan harian, nilai UTS maupun nilai UAS. Setelah
itu guru tersebut menghitung rata-ratanya keseluruhan sebagai nilai akhir.
Tentunya akan lebih bijak jika kita mengurangi beban guru dengan membiarkan
teknologi yang bekerja sehingga guru hanya perlu memasukkan nilai tersebut ke
suatu instrumen TIK dan instrumen tersebut yang akan mengolah nilai akhir
sehingga kesalahan akibat perhitungan manusia akan berkurang dan guru akan
lebih nyaman dalam bekerja. Selain itu nilai yang sudah dimasukkan dapat
langsung di-publish melalui situs sekolah sehingga semua proses penghitungan
nilai siswa dapat diolah secara transparan. Siswa juga dapat melihat nilainya
kapan saja dan dimana saja.
Ketiga, TIK dapat diterapkan dalam
meletakkan modul pembelajaran. Hal ini dapat menjadi salah satu solusi akan
mahalnya buku-buku cetak di Indonesia. Biasanya guru hanya menjelaskan materi
di papan tulis dan sumber utamanya tetaplah buku cetak yang harganya mahal dan
belum tentu semua materi di dalamnya akan dipelajari oleh siswa.
Sebelum saya kuliah di Fakultas Ilmu Komputer UI, saya belum pernah
mengalami suatu pembelajaran dimana modul yang saya pelajari pada perkuliahan
diletakkan pada suatu wadah dan wadah tersebut juga memungkinkan saya untuk
berdiskusi dengan teman maupun pengajar, mengumpulkan tugas, melihat informasi
seputar perkuliahan, dll. Wadah tersebut tidak lain adalah Scele. Saya
mengharapkan implementasi seperti Scele ini juga bisa diterapkan kepada
institusi lain, paling tidak mulai dari SMP atau SMA. Karena yang saya tahu
untuk fakultas di Universitas Indonesia sendiri baru Fakultas Ilmu Komputer
yang menerapkan metode pembelajaran seperti ini.
Saya memahami bahwa ada hambatan untuk
menerapkan metode ini pada semua level pendidikan, antara lain masalah
infrastruktur IT yang belum tersebar secara merata, mahalnya akses internet di
Indonesia dan pemahaman si pengajar terhadap IT. Oleh karena itu menurut saya
solusinya adalah sekolah atau institusi belajar dapat menyediakan fasilitas
internet yang memungkinkan siswa dapat mengakses modul yang mereka pelajari
secara gratis. Training IT kepada para guru juga diperlukan agar guru tersebut
dapat membuat modul e-learning. Bila gurunya saja tidak memahami bagaimana
membuat modul, maka implementasi seperti Scele tidak akan bisa dilaksanakan.
Keempat, TIK dapat memberikan
wadah bagi suatu institusi untuk bekerja sama dengan institusi lain untuk
sharing resource. Misalnya Universitas Indonesia dapat bekerja sama dengan
universitas lain misalnya Nanyang University di Singapura. Jadi mahasiswa UI
dapat mempelajari modul yang diajarkan di Nanyang dan mengikuti forum
diskusinya tanpa harus jauh-jauh kuliah di Nanyang. Hal ini akan meningkatkan
kualitas mahassiwa UI karena wawasannya bertambah. Harapannya adalah kita bisa
memiliki mahasiswa UI yang berkualitas Nanyang. Sedangkan bagi Nanyang sendiri
mereka juga akan memiliki wawasan mengenai bagaimana perkuliahan di Indonesia.
Saya meyakini bahwa semua gagasan di
atas akan percuma saja bila cost untuk memanfaatkan TIK itu sendiri sangat
tinggi dan infrastruktur IT belum tersebar merata. Cost yang dimaksud antara
lain cost untuk mengakses internet, cost untuk SMS gateway, dll. Cost yang
tinggi akan menjadi kendala utama karena percuma saja teknologi yang super canggih
telah dibangun akan tetapi pengguna atau peminat dari teknologi tersebut tidak
ada.
Jika dibandingkan dengan negara lain yaitu India, Singapura, Malaysia,
Thailand, dan Filipina, cost budget internet di Indonesia adalah yang termahal.
Di Singapura, pemerintah Singapura sudah berani untuk menggratiskan setiap
warganya untuk menggunakan internet brodband dengan kecepatan 1Gbps selama
setahun. Dibandingkan dengan India pun, cost budget Internet di Indonesia lebih
mahal 54 kali dibandingkan cost budget yang dibutuhkan masyarakat India untuk
dapat mengakses internet. Jadi disini perlu kerja sama yang sangat baik antara
pemerintah dengan institusi lain terkait dengan TIK agar dapat mengusahakan
cost yang rendah dalam pemanfaatan TIK. Upaya yang dapat dilakukan antara lain
menambah anggaran pemerintah terhadap pendidikan, kerja sama antara pemerintah
dengan ISP di Indonesia.
Pemanfaatan TIK pada bidang pendidikan
ini tentunya memerlukan pengawasan dari pihak-pihak tertentu sehingga dalam
pelaksanaannya tidak disalahgunakan. Misalnya saja jangan sampai penggunaan
internet justru digunakan untuk bermain games, melihat situs porno, melihat
berita yang kurang penting (seperti gosip), dll.
Hal tersebut bisa diantisipasi dengan memblock situs-situs yang
membahayakan dan melakukan pengawasan secara langsung di lapangan. Selain itu
banyak content yang disediakan di internet menggunakan bahasa Inggris.
Akibatnya adalah siswa harus meningkatkan skill mereka dalam bahasa Inggris
agar dapat memahami dengan baik informasi yang disampaikan pada situs tersebut.